Fahri Hamzah: Jokowi tidak tahu apa-apa dan akhirnya dimanfaatkan

Fahri Hamzah: Jokowi tidak tahu apa-apa dan akhirnya dimanfaatkan

Konten [Tampil]

Fadli Zon (kiri) dan Fahri Hamzah (kanan) memberi keterangan pers seusai menerima penghargaan Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Kamis (13/8/2020). - Youtube Setpres


 Berita.hikamfajri.my.id - Politisi Partai Galora Fahri Hamzah mengatakan, Presiden Jokowi saat ini memang tidak mengetahui banyak masalah.


Mantan Wakil Ketua DPR RI itu mengatakan, pemikiran politik Jokowi relatif sederhana karena ia adalah politikus asal Solo yang kemudian pindah ke tengah. Informasi tersebut ia komunikasikan melalui kanal Youtube resmi Fadli Zon pada Kamis (22/10/2020).


“Pak Jokowi harus menerima kenyataan bahwa dia politisi Solo yang pindah ke Jakarta, pindah ke pusat kota. Pemikirannya tentang politik relatif sederhana, makanya dia terpilih, "kata Fahri Hamzah kepada Fadli Zon, dikutip JIBI, Jumat (23/10) / 2020.


Fahri melanjutkan, Jokowi tidak terbiasa membaca program ideologis, baik dari masing-masing partai maupun dari para jenderal di pemerintahan.


Seorang mantan politikus PKS mengungkapkan Wakil Presiden Ma'Ruf Amin merupakan ketua Majelis Ulam yang menyebabkan terjadinya peristiwa fatwa MUI 212.


Apalagi, Presiden Partai Gerindra Prabowo yang menjadi lawan dari Jokowi dalam dua pemilihan presiden menjadi Menteri Pertahanan.


Selanjutnya, Fahri menyinggung narasi rekonsiliasi yang ia perkenalkan kepada Presiden Jokowi saat pelantikan. Menurutnya, tidak ada yang mau rujuk karena masalah rekonsiliasi terkadang mengurangi biaya kerancuan.



“Tidak ada narasi rekonsiliasi yang harus berhasil dan mungkin tidak ingin dioperasi. Karena masalah rekonsiliasi terkadang mengurangi biaya kerancuan, tapi kalau kita mengacau, biaya kerancuan itu bisnis besar, ”jelasnya.


Selain kurang paham bagaimana cara mendapatkan hak rekonsiliasi, menurutnya kabinet juga bermasalah.


Menurutnya, saat ini tidak masalah dengan siapa Jokowi mengajak rekonsiliasi. Pasalnya, menurut Fahri, pemerintah saat ini kurang memahami bagaimana cara melakukan rekonsiliasi atau cara melakukan rekonsiliasi.


Kabinet ini, dengan segala permintaan maaf saya, Pak Jokowi tidak tahu bedanya perencana, perencana pesta, pemborosan, pencari kerja dll, tidak tahu bedanya, ”kata Fahri.


Fahri mencatat, kabinet yang dibentuk pada masa jabatan kedua Presiden Jokowi hanya memikirkan kepentingan semua orang yang pada akhirnya memanfaatkan Presiden Jokowi.


Terakhir, kata dia, semua pengikut Jokowi dan lingkaran dalamnya hanya memikirkan diri sendiri.


“Mereka tidak memikirkan Pak Jokowi. Yang dia pikirkan Pak Jokowi itu pakai Pak Jokowi, itu yang akhirnya saya lihat, ”jelasnya.


Mantan Wakil Ketua DPR RI itu juga menggugat RUU yang semula post factum kini berubah menjadi antisipasi.


Lebih lanjut, Fahri membandingkan periode awal Presiden Jokowi dengan periode sekarang. Menurut Fadla, para aktivis ditangkap pada periode awal, dan lebih tepatnya pada aksi 212, karena bisa saja menguntungkan Jok.


“Tapi apa yang kamu lakukan sekarang menangkap orang? Menurut Anda mengapa orang adalah musuh politik, untuk apa itu? Apa kelebihan Pak Jokowi? Jadi saya tidak melihat semua pertunjukan Pak Jokowi, tapi itu semua di acara orang lain di sekitar Jokowi, kata Fahri.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak.

Lebih baru Lebih lama